
Hari ini adalah hari yang mendebarkan, hari yang sangat kunanti.
Hari ini telah aku persiapkan selama kurang lebih 1 minggu sebelumnya. Dengan bantuan kaka perempuanmu sekaligus kekasihnya, hari ini akan menjadi hari yang sangat berkesan untukku dan semoga untukmu.
Tanggal 19 desember telah lalu. Hari jadimu telah ku peringati dengan menelponmu selama kurang lebih 3 jam. Berbicara tidak panjang tidak lebar, hanyalah tawa ringan dan gurauan yang menggelitik serta desahan nafasmu dari kota seberang. Rindu itu pasti, menyiksa itu iya, namun apa yang bisa kulakukan hanyalah menerima segalanya dan menjalani semua yang telah kita janjikan demi sebuah niat mulia dimata Allah.
Dan apa yang terjadi usai aq menelponmu bukanlah suatu kesengajaan ataupun rencana yang aku pikirkan sebelumnya. Kejadian itu murni kecelakaan yang kemudian menelurkan ide gila untuk sambutan selamat datangmu. Berulang kali aq menanyakan kepulanganmu ketika libur tahun baru hampir tiba, namun apa yang aku dapat hanyalah jawaban kosong diangan yang kau beri dengan senyum penuh goda. Dan kecelakaan ini mengantarkanku pada langkah-langkah selanjutnya demi suksesnya ide gila ini. Nomor handphone yang aku pakai kala mengucap "selamat ulang tahun" tiba-tiba tidak dapat digunakan untuk menghubungi siapapun, yang tersisa hanyalah tulisan " emergency call only" pada layar handphone lusuhku, yang menandakan bahwa tidak ada jaringan untuk berkomunikasi. Pagi itu juga, sekitar pukul 03.00 ide itupun muncul begitu saja. "apa jadinya kalau aku menghilang tanpa kabar" itulah yang muncul dibenakku. Esok harinya aku menghubungi sang kaka untuk melancarkan ide gila ini. Aku mengutarakan ideku dan meminta kesediaannya untuk membantuku karena hanya dialah yang bisa mengetahui gerak-gerikmu tanpa aq harus berhubungan denganmu. Malam harinya aku mengupdate status facebook yang kontroversial dan mengundang perhatian banyak orang. "tanda-tanda ketidaksetiaan" sontak statusku menerima banyak komentar yang mengatakan padaku agar aku bersabar, padahal pada kenyataannya yang aku maksudkan adalah ketidaksetiaan nomor handphoneku. Aku hanya tertawa puas melihat langkah demi langkah berjalan sesuai dengan harapan. Satu,dua hari aq menghilang tanpa jejak, dan kamu menikmati hari-harimu tanpa sms dariku, handphone yang tak bisa kau hubungi, status facebookku yang mengundang tanda tanya besar untukmu, serta status relathionship yang sengaja aku sembunyikan pada tampilan basic profile. Tiap hari aku hanya bisa mengamatimu dari status facebookmu dan kabar dari sang kaka. Aku semakin tertawa geli setiap kali melihat aktivitas facebookmu yang kalang-kabut mencari keberadaanku. Esoknya nomor handphone yang aku servis di pusat layanan pun telah siap untuk diambil dan dipake. Aku mengaktifkan handphoneku dan saat itu juga kamu menelponku, namun sayang seribu sayang aku merejectnya. Tak bisa kubayangkan raut wajamu yang semakin kebingungan dengan kelakuanku. Setelah kamu tidak berhasil menelponku, kamupun mengambil langkah lain yaitu mengirimiku sebuah pesan singkat menanyakan apa yang terjadi sebenarnya hingga kamu tidak dapat konsentrasi untuk mempersiapkan ujian yang semakin mendekat. Atas alasan konsentrasi belajar, akupun terpaksa membalas smsmu setidaknya untuk membuatmu tenang dan memberitahu agar kamu tidak menghubungiku lagi dalam beberapa hari ini. Sms demi sms kau kirim tanpa balasan satupun dariku. Sampai pada suatu hari aku melihat perkembangan yang sangat drastis dari statusmu yang berubah menjadi 'single' dari sebelumnya berstatus 'engadged', statusmu yang bertuliskan 'enough', serta sms mu yang bertuliskan "cukup" yang dengan kata lain kau mengakhiri hubungan kita karena suatu alasan yang tidak jelas. Ketika itu juga aku syok dan lumayan takut dengan nasib hubungan ini, takut juga kalau-kalau kamu membatalkan niatmu untuk pulang kerumah. Akupun memutuskan untuk menghubungi sang kaka dan bercerita tentang ketakutanku. "Habis sudah riwayatku kalau kamu tidak jadi pulang", batinku. Kejutan yang kubuat akan sia-sia belaka dan aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskan semua ini kalau kau tak jadi pulang.
Namun sang kaka yang baik hati terus menenangkan hatiku dan meyakinkanku kalau kau pasti pulang. Aku juga membicarakan kado apa yang sebaiknya aku berikan untukmu serta kejutan apa yang pantas untukmu. Sang kaka pun menyarankan untuk memberimu kacamata mengingat kacamatamu baru saja pecah. Lalu untuk kejutan, awalnya aku berniat untuk menjemputmu sewaktu kamu sampai distasiun, namun hal itu sangatlah tidak mungkin karena aku tidak akan mendapat persetujuan mama untuk menjemputmu seorang diri pukul 03.00 dini hari. Kembali lagi sang kaka menyarankan baiknya aku berada dirumahmu untuk memberi kejutan. Akupun menyetujui idenya yang brilian itu.
Tiba juga hari ini, hari dimana kamu pulang dengan tanda tanya besar dibenakmu. Pagi-pagi buta aku mengirim pesan singkat pada sang kaka untuk menanyai kondisimu dan langkah selanjutnya yang harus aku lakukan. Dengan terheran-heran sang kaka menjawab pertanyaanku bahwa setibamu dirumah, kamu langsung pergi ke arena olahraga untuk bermain basket bersama kaka lelakimu tanpa menghiraukan rasa lelah selama perjalanan kurang lebih 15 jam. Sang kaka menyarankanku untuk datang kerumahmu pada pukul 08.00 sebelum kamu tiba dirumah. Dengan gelisah menanti pukul 08.00 sambil mempersiapkan segala sesuatunya aku pun mencoba duduk tenang dan minum teh dimeja makan bersama orangtuaku. Detik terus berjalan sampai pada saat aku berpamitan dan bergegas masuk ke mobil biruku.
Setiba dirumahmu, aku disambut hangat oleh sang kaka. Kamipun mematangkan rencana selanjutnya sambil menunggu kekasih sang kaka yang antusias untuk balas dendam mengerjaimu. Sang kaka mencoba menelpon kaka lelakimu yang bersamamu di arena olahraga agar mengajakmu pulang, namun dia mengatakan kalau kamu masih betah dan tak mau diajak pulang. Kami bertiga memutuskan untuk bergegas menemuimu di arena olahraga, namun tiga perempat jalan yang kami lalui, sang kaka mendapat laporan bahwa kamu telah tiba dirumah. Pusing dibuatmu, aku memutar balik mobilku menuju rumahmu.
Setiba dirumahmu, aku memarkir mobil di gang sebelum rumahmu agar tidak terlihat olehmu. Sang kaka mendahului masuk dan meninggalkan aku bersama kekasihnya. Kami menunggu kabar selanjutnya dari sang kaka untuk melancarkan aksi. Kekasih sang kaka telah siap bersama tepung ditangan kirinya dan sekantong air ditangan kanannya. Aku tak kalah siap dengan kue tart dan lilin yang menyala dalam angka 20 menandakan usiamu kini. Kami pun berjalan menuju beranda rumahmu menanti dengan penasaran akan ekspresi yang akan terlihat diwajahmu.
Dan sesosok lelaki tinggi, besar, yang mengenakan kaos merah dengan celana basket pun keluar dari dalam rumah menatapku dengan heran bercampur takjub. Aku menggiringmu membelakangi kekasih sang kaka yang membawa tepung dan sekantong plastik agar tak terlihat olehmu. Ketika posisi terlihat telah siap, aku menyuruhmu menutup mata untuk berdoa meminta harapan lalu meniup lilin, dan saat itu juga sang kaka bersama kekasihnya menaburkan tepung dan air disekujur tubuhmu. Butiran tepung memenuhi kepala dan badanmu ditambah sekantong air yang telah dipersiapkan dan beberapa kantong lagi yang dibawa sang kaka dari dalam. Badanmu yang sebelumnya bersih sehabis mandi, dalam hitungan detik telah berubah kotor dan basah akibat tepung dan air yang menjadi tambahan ide gila sang kaka dan kekasihnya.
Usai sudah sandiwaraku dengan sebuah epilog yang membahagiakan. Kini kamupun tampak 40 tahun diatasku dengan rambut putihmu, ulah dari sang kaka dan kekasihnya.
oooooooohhhhhh.... thatz beautiful moment honeyy...
BalasHapusloveusomuch.
wait for me next dec 29th... hwkwk.
REVENGE!!! x)
hhaha.. ternyata..
BalasHapuskelakuannya begitu ya...
seneng liat bojone susah...!!
oke... oke... boleh... hwkwk.