life just like a rainbow

Senin, 28 Desember 2009

Loyalitas sebuah pensiL





Ketika kita duduk dibangku sekolah, seringkali kita ditemani oleh pensil. Walaupun lebih jarang dipakai

dibandingkan dengan penggunaan bolpoin. Namun sadarkah kita, ketika kita belajar menulis pertama kali dibangku taman kanak-kanak, apakah yang kita pakai? Jawabannya adalah pensil.

Ketika kita ragu-ragu akan sesuatu yang hendak kita tulis, kita menggunakan apa? Lagi-lagi pensil

Alasannya adalah agar lebih mudah dihapus apabila ada suatu kesalahan dalam penulisan

Pensil menemani kita disaat pertama kali kita belajar menulis

Pensil mengantarkan kita dari ketidak-tahuan menjadi pengetahuan

Satu cerita menarik tentang pensil yang saya pakai dari awal masuk SMA hingga sekarang.

Umurnya sudah 3 tahun lebih. Saya membelinya ditoko alat tulis seharga Rp.1700,00.

Awal masuk SMA, saya belum memiliki pensil yang bentuknya seperti bolpoin yang biasa disebut pensil mekanik.

Kemudian saya meminjam pensil teman saya dan saya menanyakan harganya. Maklum saya orang yang jeli dalam membeli barang (alias pelit) :D

Bentuknya bagus menurut saya, simpel, dan nyaman dipakai menulis.

Saya pun membeli pensil itu.

Lian, teman sebangku saya waktu itu, menggoda dengan pensil baru saya.

Ketika pertengahan kelas X, ada trend dikalangan teman-teman saya yang melapisi segala alat tulis menggunakan selotip bercorak kartun-kartun lucu. Saya termasuk satu diantaranya. Namun pensil saya belum terlapisi selotip itu. Sampai pada saat saya bermain dikelas sebelah, saya melihat selotip bercorak Mickey mouse yang lucu dengan background kotak-kotak hitam-putih milik teman saya bernama Martha. Kontan saja saya izin meminta selotipnya sedikit. Alhasil Martha yang pemurah itu mengizinkan saya yang pelit untuk meminta sedikit (gak modal banged nii ;P).

Saya mengambil pensil itu di kelas, membawanya ke kelas Martha, dan langsung melapisinya dengan selotip Mickey Mouse dengan perlahan agar rapi.

Pensil saya telah berubah rupa menjadi lebih indah (hehehehe).

Satu tahun berjalan, saya naik ke kelas XI. Saya masih menggunakan pensil mekanik tersebut.

Di kelas baru, saya duduk sebangku dengan teman saya yang cantik, putih, berperawakan tinggi bernama Lusiana. Sebelumnya saya tidak berada dikelas itu, namun karena ketidakcocokan dengan kelas sebelumnya, saya mengajukan diri untuk pindah kelas. Beruntungnya saya diizinkan pindah kelas yang sebelumnya hal itu mustahil terjadi. Kebetulan saya satu kelas dengan Martha. Hari terus berjalan sampai pada akhirnya keadaan pensil saya sangat memprihatinkan. Selotipnya sedikit terkelupas dan sudah tidak rapi lagi. Teman saya, Lusi, kerap kali protes pada saya. Dia merasa prihatin dengan si pensil , protes mengapa saya masih saja mempertahankan keberadaan pensil itu.

Lalu, tiba saatnya

pensil saya sekarat alias rusak.

Beginilah keadaannya.

Tekan bagian atasnya...


jadi 2 deh...(^^)v


Namun dengan keadaan itu, saya masih setia menggunakannya. Saya tidak dengan mudahnya pindah kelain hati alias beli yang baru.

Bunga, teman sebangku Martha dengan sewotnya melakukan aksi protes sesuai dengan apa yang dilakukan Lusi sebelumnya.

Tak sedikit teman yang meminjam pensil saya yang kaget setelah menggunakannya karena ketika ditekan atasnya, isinya akan loncat keluar. Pensil ajaib dapat mengecoh orang awam. Hehehe

Tahun ketiga saya di SMA, dan pensil itu telah mengantarkan saya duduk di kelas XII.

Kesetiaan saya terhadap pensil itu masih saja terlihat. Ketika teman-teman mengolok-olok pensil itu, dengan bangganya saya menjawab “inilah kesetiaan, jangan dilihat dari bentuknya, tapi lihatlah bagaimana pensil ini mengantarkan saya, menjadi sejarah perjalanan saya, saksi perjuangan saya menuntut ilmu”. Saya sangat memaknai keberadaannya sangat dalam dengan kesetiaannya menemani saya selama ini.

Akhir kelas XII, dengan berat hati saya memutuskan untuk melepas selotip Mickey Mouse yang sudah sangat lusuh itu. Saya membersihkan pensil saya, dan alhasil pensil yang selama ini terlapisi selotip, kini terlihat seperti baru.

Rina, yang menjadi teman sebangku saya dikelas XII, kaget dengan pensil saya. Dia mengira saya membeli pensil baru, namun hal itu segera disadari ketika dia mencoba menekan bagian atas pensil dan yang terjadi adalah seperti biasa, isi pensil itu loncat keluar.

Dia mengatakan bahwa selama ini dia merasa jijik melihat keadaan pensil saya yang lusuh dengan selotip Mickey Mouse yang melapisi luarnya, namun dia baru berani mengatakan hal itu setelah saya melepas selotipnya. Dia sungkan mengatakan itu sebelumnya karena dia tau betapa saya sangat menyayangi pensil itu.

Pensil itu telah mengantarkan saya sejauh ini,

setia menemani saya dalam berjuang bertahun-tahun,

membangkitkan saya dalam keterpurukan sekalipun,

dan saya memaknai semua itu sebagai bukti nyata akan adanya PROSES.

Dan sampai saya duduk dibangku perkuliahan sekarang, saya masih setia menggunakan pensil sekarat yang bagian bawahnya sampai berkarat. =P

((bukan dikata pelit ogah beli yang baru, tapi iriit getooh. Ahahahah, sama aja))

1 comments:

  1. faithpulll... hwkwk.
    irit pula... xD

    BalasHapus